Bangga Juara Kontes Kopi Spesialti Terbaik Indonesia 2021

D'Coffee Update- Tiga kopi dari berbagai daerah menjadi juara Kontes Kopi Spesialti Indonesia 2021. Ketua panitia Kontes Kopi Spesialti Indonesia, Pranoto Soenarto mengatakan, perlombaan ini bertujuan mendorong petani menghasilkan kopi dengan kualitas lebih baik, sehingga harga kopi meningkat.


(ilustrasi kopi (google - pixabay)

"Dari 482 peserta, ada tiga pemenang dalam tiga kategori berbeda," kata Pranoto Soenarto dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 23 Oktober 2021. Berikut pemenang Komtes Kopi Spesialty Indonesia 2021.

Juara pertama untuk jenis kopi robusta adalah Martina Rinasih asal Jambu, Semarang, Jawa Tengah, dengan skor 88,63.

Juara pertama untuk jenis kopi arabica natural adalah Sabardi dari Ulunowih Gayo Coffe, Bandar Bener Meriah, Aceh dengan 89,25 poin.

Juara pertama untuk jenis kopi arabica washed adalah Yanto asal Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi dengan skor 89,83.

Pranoto menjelaskan, Kontes Kopi Spesualti Indonesia pertama kali berlangsung pada 2008 oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia bersama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Babak final Kompetisi Kopi Spesialti Indonesia 2021 berlangsung pada 21-22 Oktober 2021. Sama seperti tahun lalu, perlombaan ini terselenggara secara hybrid atau vitural dan aktual karena pandemi Covid-19.

Salah satu pendorong keunggulan kopi Indonesia adalah punya karakteristik tata ruang tempat menanam kopi yang berbeda. Belum lagi cara memproses kopi yang beraneka ragam di setiap daerah. Semua itu membuat kopi Indonesia memiliki ciri khas. Selain lomba kopi terbaik, penyelenggara Kontes Kopi Spesialti Indonesia 2021 juga mengadakan diskusi daring dengan berbagai tema.


Cek TEMPOTERKINI

Share:

Kebijakan Pemerintah : Lemaba Pengelolah Dana Kopi

Dialogis Coffee - D'Coffee adalah salah satu pemerhati Kopi Indonesia. Sebagi langkah awal yang dilakukan oleh tim D'Coffee adalah mengumpulkan berita, artikel dan hasil penelitian yang dikumpulkan dalam satu Blog/Web untuk menjadi basis data Perkopian Nusantara. Anda dapat berkonstribusi dengan menghubungi tim kami.  
 
   
ilustrasi kopi (pixabay.com)
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa pemerintah berencana membuat lembaga khusus penghimpun dana kopi. Alasannya, potensi perkebunan kopi Indonesia begitu besar, tapi produksinya masih kurang.

Menurut data Kementerian, untuk kopi robusta saja, petani hanya sanggup memproduksi 0,53 ton kopi per hektare. Padahal potensinya bisa mencapai dua ton tiap hektare. Untuk kopi arabika, produksinya baru mencapai 0,55 ton per hektare, sedangkan potensi maksimal mencapai lima ton per hektare. Maka dibutuhkan keseriusan dalam penelitian dan pengembangan produktivitas kopi Indonesia.

Ada baiknya kita menengok Vietnam. Saat ini Vietnam adalah produsen kopi raksasa regional. Menurut data Organisasi Kopi Internasional, negeri itu menduduki posisi kedua dunia dalam menghasilkan kopi, dua tingkat di atas Indonesia, yang berada di posisi keempat. Produksi kopinya lebih dari dua kali lipat kopi Indonesia.

Ketika Perang Vietnam berakhir pada 1975, perekonomian Vietnam sempat lesu dan kebijakan ekonomi yang disalin dari Uni Soviet tidak cukup membantu. Pada 1986, pemerintahan komunis Vietnam melakukan manuver Doi Moi dengan kebijakan "ekonomi pasar berorientasi sosialis" dan pada saat yang sama mengembangkan produk kopi.

Sejumlah perusahaan kopi terkemuka berkolaborasi dengan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan petani untuk menggantikan pohon-pohon kopi yang menua serta memberikan layanan peremajaan dan pembiayaan.

Lembaga swadaya masyarakat Filanthrope turun tangan. Mereka ahli mengenai kopi dan memberikan dukungan langsung kepada petani. Mereka juga mempromosikan model perdagangan yang memungkinkan kelompok tani mendapatkan akses ke nilai eceran untuk tanaman mereka. Hal ini memberdayakan petani untuk meningkatkan standar hidup dan menyeimbangkan aspek ekologis dan sosial-ekonomis sebagai praktik pertanian yang sehat.

Produksi kopi kemudian tumbuh sebesar 20-30 persen setiap tahun pada 1990-an. Industri ini sekarang mempekerjakan sekitar 2,6 juta orang.

Pada 2010, Kerangka Kerja Visi Baru untuk Pertanian (NVA) dibuat di bawah arahan Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan. Strategi 10 tahun ini bertujuan untuk memajukan produktivitas, kualitas, dan daya saing pertanian skala besar yang berkesinambungan untuk mencapai ketahanan pangan nasional dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Kerangka kerja NVA dimasukkan ke strategi pertanian nasional pada November 2011. Kelompok kerja kopi adalah salah satu inisiatif pertama dari Kemitraan untuk Pertanian Berkelanjutan. Hasilnya, pada musim 2014-2015, hasil panen dan pendapatan bersih petani Vietnam meningkat masing-masing 21 persen dan 14 persen.

Upaya ini telah mengubah drastis ekonomi Vietnam. Pada 1994, sekitar 60 persen orang Vietnam hidup di bawah garis kemiskinan, tapi sekarang angkanya kurang dari 10 persen.

Potensi kopi Indonesia sebenarnya cukup besar dan alamnya tidak berbeda jauh dengan Vietnam. Saya sempat mampir ke Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, untuk meneliti kelompok-kelompok kecil petani kopi yang mulai bergeliat, terutama karena sejak berhasilnya branding kopi dari daerah ini di beberapa kontes kopi internasional.

Namun tidak mudah bagi petani-petani di sana untuk serta-merta beralih menanam kopi, meski harganya lebih tinggi daripada sayur-sayuran yang biasa mereka tanam. Kopi adalah tumbuhan tua, yang jauh berbeda dengan sayur sebagai tumbuhan muda. Bila menanam sayur, tidak sampai dua bulan mereka telah panen. Kopi butuh 3-4 tahun sebelum tunas kopi menjadi pohon yang berbuah. Selama itu, "Kami makan apa?" kata mereka.

Saya bersepakat dengan rencana pembentukan Badan Pengelola Dana Kopi yang nanti akan berperan dalam pengembangan usaha perkebunan kopi yang berkelanjutan. Kopi telah dimasukkan sebagai komoditas perkebunan strategis, tapi riset dan pengembangannya sangat lambat. Bahkan, total produksi kopi Indonesia dalam tiga tahun belakangan malah turun.

Untuk membuat harga kopi Indonesia tetap kompetitif di pasar internasional, pemerintah sebaiknya menjalin kerja sama perdagangan dengan negara tujuan ekspor utama, seperti Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership, yang sudah dilakukan terhadap pasar Amerika Selatan.

Alek K. Kurniawan
Head of Advocacy ECONACT Indonesia


Diterbitkan pertama kali di Tempo.co
Share:

Produksi Kopi Indonesia Dari Nomor Empat Dunia Menuju Nomor Dua di Dunia

Ilustrasi Kopi (Pixabay)
Dialogis Coffee - D'Coffee adalah salah satu pemerhati Kopi Indonesia. Sebagi langkah awal yang dilakukan oleh tim D'Coffee adalah mengumpulkan berita, artikel dan hasil penelitian yang dikumpulkan dalam satu Blog/Web untuk menjadi basis data Perkopian Nusantara. Anda dapat berkonstribusi dengan menghubungi tim kami.  

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan produksi kopi Indonesia berada di urutan kedua dunia. Karena itu, tahun ini, produksinya harus ditingkatkan mencapai 1 juta ton.

"Sekarang urutan keempat. Kita harus naikkan menjadi 1 juta ton. Kalau itu kita capai, kita urutan kedua dunia," katanya di Makassar, Senin, 31 Juli 2017.

Menurut dia, produksi kopi saat ini tidak menurun karena hal itu sudah lama terjadi sehingga produktivitas harus ditingkatkan. Amran mengatakan negara penghasil kopi terbesar adalah Vietnam, Kolombia, dan Brasil. Karena itu, dia melanjutkan, produksi kopi harus terus digenjot agar meningkat dari 691 ribu ton pada 2016 menjadi 1 juta ton tahun ini.

"Kita enggak usah dulu 2 juta ton. Kalau kita capai 1 juta ton saja, kopi sudah masuk urutan kedua dunia. Apalagi kalau mencapai 2 juta ton, kita bisa peringkat pertama," ujarnya.

Amran menuturkan target pemerintah cukup realistis melihat banyak daerah berpenghasilan kopi, seperti Sulawesi, Aceh, dan Bengkulu. Karena itu, Kementerian telah mempersiapkan strategi demi mendongkrak produktivitas kopi, termasuk bibit dan pupuk gratis. "Tapi ingat juga airnya harus sesuai," ucapnya.

Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat jumlah area lahan kopi di Indonesia pada 2017 seluas 1.233.483 hektare. Lahan tersebut terdiri atas perkebunan kopi robusta 912.135 hektare dan kopi arabika 321.158 hektare.

Saat ini, produksi kopi dalam negeri sudah menembus 637 ribu ton dengan luas lahan 1,1 juta hektare atau 707 kilogram per hektare. Terkait dengan target produksi kopi, kata Amran, juga akan dilakukan perluasan lahan 200 hektare di Kalimantan. "Kita akan lakukan peremajaan lahan dan pemberian edukasi kepada para petani," tuturnya. Selain itu, dia menambahkan, perbaikan sistem pembenihan akan dilakukan demi meningkatkan kualitas produksi kopi sehingga bisa bersaing di pasar internasional.

Artikel telah terbit di Tempo.co
Share:

Ini Karakteristik Kopi Arabika Bagi Penikmat Kopi

Ilustrasi coffee google.com
D'Coffee - Para Penikmat kopi sejati banyak yang memburu kopi jenis arabika. Kopi ini dipercaya sebagai salah satu komoditas kopi yang berasal dari tanaman coffee Arabica yang tumbuh di daerah Ethiopia dan kemudian kopi ini dibawa oleh para pedagang yang ada di Arab ke Yaman.

Banyak orang yang menganggap jika kopi arabika ini merupakan minuman penyegar bagi tubuh yang dapat membangkitkan semangat saat santai, sebelum maupun saat sedang melakukan aktivitas.

Meskipun jenis kopi yang ada di pasaran bukan hanya pada kopi arabika saja, namun jenis kopi yang satu ini tetap menjadi kopi incaran banyak orang, karena dianggap sebagai kopi yang memiliki aroma serta rasa yang berbeda. Sehingga wajar saja bila jenis kopi ini menjadi kopi favorit banyak orang.

Kopi Arabika memiliki ciri khas yang membuatnya diincar para penikmat kopi. Mau tahu apa saja yang menjadi ciri khas dari kopi yang satu ini? Berikut penjelasannya:
  1. Pohon arabika ini mempunyai perakaran yang cukuplah dangkal yaitu kurang lebih 30 cm dari permukaan tanah
  2. Pohon arabika ini memiliki bunga yang tumbuh dari bagian mata tuas serta terletak di ketiak daun dan untuk bunga menyerbuk dengan sendirinya
  3. Pohon ini memiliki buah yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tanaman kopi yang lainnya
  4. Pohon ini dapat tumbuh hingga 5 meter apabila tidak dipangkas
Dari ciri-ciri di atas tentu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi kenapa kopi arabika ini menjadi kopi favorit dan banyak diincar oleh masyarakat.  Selain itu kopi jenis ini memiliki ciri paling menonjol jika dibandingkan dengan tanaman kopi yang lainnya.

Saat ini, banyak pabrikan kopi yang mengemas kopi arabika dalam bentuk sashet, meskipun hal ini tidak menjadi pilihan favorit bagi para penikmat kopi sejati. Mereka tetap dengan tradisi manual, menyeduh kopi dengan serangkaian cara yang menghibur.

Adapun kopi arabika yang dijual dalam bentuk bungkusan, gampang diperoleh di warung, toko, pasar maupun supermarket dan di toko online. Kini kopi bukan lah sekadar minuman untuk teman begadang saja. Tapi kopi juga dapat menjadi suguhan untuk tamu untuk mengakrabkan suasana.

Tulisan ini sudah tayang di Onlylaila.com dan Tempo.co
Share:

Pasar Kopi Cina Tumbuh 30 Persen Setahun, Kesempatan Bagi Indonesia

Ilustrasi Kopi Google.com
D'Coffee - Delapan pengusaha kopi Indonesia bertemu para pengusaha dari Cina untuk merumuskan strategi guna meningkatkan nilai ekspor ke negara berpenduduk terbesar di dunia itu.

"Kami berinisiatif mengumpulkan mereka agar dapat mencapai rumusan meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke Cina," kata Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Ratu Silvy Gayatri, kepada Antara di Beijing, Senin, 13 November 2017.

Pertemuan yang dikemas dalam diskusi pada pekan lalu tersebut juga melibatkan Asosiasi Pengusaha Indonesia di Cina Selatan (SCIBA) dan The Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) serta para pengusaha dari Guangzhou, Shanghai, dan Hong Kong.

Silvy menyebutkan pada Januari-September 2017, ekspor kopi Indonesia ke Cina mencapai 34,1 juta dolar AS. Indonesia menempati peringkat kedua negara eskportir kopi ke Cina di bawah Vietnam yang pada periode tersebut telah mencapai 368,8 juta dolar AS.

Ia yakin Indonesia mampu mengejar Vietnam karena beberapa hal, di antaranya kopi merupakan salah satu produk unggulan Indonesia yang sangat kompetitif. "Bersama Brasil, Vietnam, dan Kolombia, Indonesia merupakan satu dari empat negara penghasil kopi terbesar di dunia," ujarnya.

Selain itu, pertumbuhan konsumsi kopi per kapita di Cina terus meningkat antara 15 hingga 30 persen per tahun. Padahal, peningkatan konsumsi kopi rata-rata di dunia hanya 2,3 persen per tahun.

Berdasarkan catatan KJRI Guangzhou, pada 2020 nilai industri kopi di daratan Tiongkok itu akan mencapai 300 miliar RMB atau sekitar Rp600 triliun. "Hal ini dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat Cina. Generasi muda Cina semakin menggemari kopi sebagai gaya hidup baru yang dinilai modern," ujarnya.

Namun di sisi lain, lanjut Silvy, produksi kopi Cina yang berpusat di Yunnan dan Hainan tidak mampu memenuhi tingginya permintaan kopi domestik sehingga impor kopi menjadi keharusan. "Kami yakin bahwa peluang tersebut hanya dapat diperoleh manfaatnya secara maksimal jika pemerintah sebagai fasilitator dan pelaku usaha kopi dapat saling bersinergi dan bekerja sama," kata Konjen.

Sementara itu, Ketua SCIBA Tjin Pek Yan menyampaikan bahwa untuk mencapai hasil maksimal ekspor kopi ke Cina, Indonesia harus memfokuskan diri pada kopi jenis arabika padahal petani di Indonesia memiliki lahan perkebunan kopi yang relatif kecil, sekitar 1 hingga 2 hektare.

Padahal, menurut pengusaha asal Bandung, Jawa Barat, yang sudah 17 tahun membuka usaha di Cina itu, negara-negara lain seperti Vietnam, Brasil, dan Kolombia memiliki perkebunan yang jauh lebih luas dan dikelola dalam skala industri besar.

"Kita perlu lebih fokus menjual produk kopi berkualitas dengan harga premium. Kopi asal Panama, misalnya, dengan fokus penjualan kopi kelas premium, harga per pound di sini bisa mencapai 20 dolar AS, sementara kopi dari Indonesia sekitar 2 dolar AS," kata Pek Yan.

Ketua Pembina SCAI Delima Hasri Darmawan mendorong para pedagang dan petani di Indonesia dapat bekerja sama untuk menghasilkan kopi yang berkualitas. "Pedagang harus turun ke bawah untuk membina dan membimbing para petani agar kualitas kopi terjaga," kata Delima.

Berbeda dengan Jason, importir kopi Indonesia asal Cina, menyarankan agar Indonesia mengekspor kopi jenis robusta dalam bentuk kemasan. "Kalau Indonesia menjual kopi robusta dalam bentuk bijian ke Cina sangat sulit bersaing dengan Vietnam yang mampu menjual kopi jenis serupa dengan harga yang jauh lebih murah," kata Delima.

Selain itu, para peserta diskusi juga mendorong pelaku usaha kopi Indonesia lebih giat lagi melakukan promosi di Cina.

Berita ini telah tayang sebelumnyas di Tempo Bisnis
Share:

Kopi Gayo Menjadi Langganan Starbucks Denga Catatan...

Djurnal D'Coffee - Managing Direktor Starbucks, Colman Cuff, menyatakan siap membeli kopi Arabika Gayo tanpa batas berapa pun jumlahnya. "Unlimited for Gayo Coffee," kata Colman Cuff seperti dirilis Humas Bener Meriah yang diterima wartawan di Redelong, Aceh, Selasa, 24 April 2018.
Ilustrasi Coffee. Google.com
Hal itu diungkapkan Colman Cuff saat berdialog dengan dua bupati dari daerah penghasil kopi Arabika Gayo, yakni Bupati Bener Meriah Ahmadi dan Bupati Gayo Lues Muhammad Amru yang mengunjungi Kantor Pusat Starbucks di Seattle, Amerika, Jumat, 20 April 2018.

Namun, kata Colman, Starbucks memberlakukan satu syarat tentang standarisasi kopi yang akan mereka beli yaitu kopi yang telah memiliki sertifikat cafe practices. "Kami mengutamakan kualitas yang bagus dan konsistensi terhadap mutu yang kami tetapkan. Kami hanya membeli kopi yang memiliki sertifikat cafe practices, sehingga pengusaha anda harus memiliki syarat tersebut jika ingin menjadi bagian Starbucks," ujar Colman kepada Bupati Ahmadi.

Pada kesempatan itu, Colman, juga meminta daftar perusahan eksportir kopi di Bener Meriah yang direkomendasikan untuk menjadi mitra bagi Starbucks.

Diketahui, selama ini Starbucks baru menjalin kerjasama dengan Koperasi Baburrayan di Kabupaten Aceh Tengah yang telah mengantongi sertifikat cafe practices untuk memasok kopi Arabika Gayo ke perusahan kopi terbesar di dunia itu.

Pertemuan tim Starbucks dengan dua bupati dari dataran tinggi Gayo tersebut juga membahas terkait penggunaan merek Kopi Gayo di tubuh Starbucks yang selama ini masih menyematkan label Sumatra Coffee bagi produk kopi yang berasal dari wilayah Gayo. "Kami ingin nama kopi yang dibeli dari daerah kami menggunakan label Arabika Gayo," ucap Ahmadi kepada Colman Cuff.

Colman mengaku akan mempertimbangkan hal tersebut. Untuk itu, kata Colman, pihaknya perlu melakukan survei origin trip terlebih dahulu untuk melihat langsung luas wilayah produksi kopi Gayo yang tersebar tiga kabupaten, yakni Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

"Ini cukup penting karena menyangkut merek yang kami produksi akan menyematkan nama kopi dan cita rasa masing-masing. Kami perlu melakukan origin trip untuk melihat standar luas dan produksi yang nantinya menjadi syarat dalam pencantuman brand Kopi Gayo pada produk kami," ujar Colman sekaligus menyatakan akan berkunjung ke Gayo pada Oktober 2018.

Bupati Bener Meriah Ahmadi berada di Seattle, Amerika, untuk mengikuti pameran SCA Coffee Expo bersama delegasi Pemerintah Aceh. SCA Coffee Expo merupakan ajang pameran kopi terbesar di dunia yang mempertemukan para pelaku bisnis kopi dari berbagai negara di belahan dunia mulai dari produsen, pembeli, dan industri pengolahan kopi.

Di ajang ini pula, Kopi Gayo menjadi primadona. Penikmat kopi dunia mengenal Arabika Gayo karena mutu, aroma, dan cita rasanya yang khas.

Arabika Gayo tercatat paling digemari oleh konsumen di Amerika, Eropa, dan Jepang. Kopi Gayo disebut sangat istimewa karena memiliki aroma khas dengan perisa (flavor) komplek dan kekentalan (body) yang kuat.

Baca berita lainnya tentang Starbucks di Tempo.co.
Share: